Sustainable Mariculture Workshop
Pertemuan dan Workshop Budidaya Kelautan Lestari
Untuk memastikan ini, telah lahir sebuah komitmen bersama antara institusi penelitian, pemerintah, sektor swasta, kelompok masyarakat, dan lembaga donor untuk mengembangkan dan mengimplementasi model-model usaha berbasis sumberdaya kelautan terpadu. Komitmen ini dituangkan dalam nota kesepahaman antara Universitas Hasanuddin, Australia Institute of Marine Science (AIMS), IFC Sea Plant.net, PT. Mars Symbioscience, Dinas Perikanan dan Kelautan Sulsel, serta Konsorsium Mitra Bahari Sulsel dalam pertemuan dan workshop bertajuk Budidaya Kelautan Terpadu dan Lestari (Integrated Sustainable Mariculture Meeting & Worshop) yang dilangsungkan pada 27 – 30 November. Pertemuan dan workshop ini merupakan awal kerjasama antara para pihak tersebut untuk menemukan solusi strategis pengembangan budidaya laut yang optimal tanpa merusak keseimbangan dan kelestarian ekosistem pesisir. “Lebih dari sekedar pertemuan ilmiah, perwakilan peneliti, pemerintah, pengusaha, mitra donor, dan masyarakat bersama-sama membangun habitat buatan untuk mempercepat rehabilitasi ekosistem terumbu karang melalui pembiakan karang dengan sistem akresi mineral (biorock) pada Stasiun Pusat Penelitian Kelautan Unhas di Pulau Barang Lompo dan Barang Caddi. Ini merupakan wujud nyata pengembangan fasilitas penelitian kelautan berskala internasional di kedua pulau tersebut.” jelas Mahatma Lanuru mewakili Konsorsium Mitra Bahari RC Sulawesi Selatan. Dr. Jamaluddin Jompa selaku Kepala Pusat Penelitian Terumbu Karang Universitas Hasanuddin dan Sekretaris Eksekutif COREMAP II DKP mengatakan,“Para peneliti kelautan dapat mengambil peranan penting dalam bingkai kerjasama dengan pemerintah, sektor swasta, kelompok masyarakat dan lembaga donor untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar potensi kelautan dan perikanan kita yang kaya ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan, baik secara ekonomis maupun ekologis”. Inti dari pada Nota Kesepahaman multi pihak ini adalah menyepakati upaya bersama untuk meningkatkan kualitas komoditas kelautan Indonesia bagi kesejahteraan masyarakat pesisir dengan cara-cara yang optimal dan lestari.
Bruce Wise, Program Manager Agaribusiness Linkage IFC mengatakan”Solusi-solusi yang muncul dalam pertemuan dan workshop mengarah pada kemungkinan pelaksanaan pilot proyek terpadu terkait pengembangan model-model usaha kecil dan menengah sektor kelautan. Model tersebut perlu terukur dalam peningkatan kesempatan usaha berbasis masyarakat dan pada saat yang sama juga mengurangi dampak buruk aktivitas manusia terhadap terumbu karang dan lingkungan laut”.
Sangat penting untuk menemukan solusi usaha yang dapat memberi pemasukan yang cukup signifikan dan berkelanjutan bagi para nelayan. Selama ini banyak pengusaha dan nelayan masih bergantung pada hasil tangkapan (terutama ikan dan tiram) yang ketersediaannya di alam semakin langka. Sehubungan dengan hal itu, Presiden Direktur Mars Symbioscience, Noel Janetski, mengatakan,”Kerjasama ini berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir dalam mengelola komoditas kelautan Indonesia, termasuk menjamin ketersediaan stok untuk pasar domestik dan eskpor, serta mengurangi ketergantungan nelayan terhadap pengambilan dari alam yang berpotensi merusak habitat laut. Dengan demikian komoditas kelautan