Call For Article Majalah SALAM Maret 2009
Keluarga Majalah LEISA akan memperingati ulang tahunnya yang ke-25 tahun 2009. Untuk merayakannya, kami memilih isu ”Pertanian Keluarga” sebagai tema utama selama tahun 2009. Tujuannya untuk menggarisbawahi peran penting pertanian skala kecil—yang dalam hal ini diwakili pertanian keluarga—dalam dunia pertanian.
Majalah SALAM yang terbit selama tahun 2009 akan mengulas sisi ekologis, ekonomi, sosial, dan budaya dari pertanian skala kecil, khususnya yang menggunakan pendekatan LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture).
Majalah SALAM Edisi 27 yang terbit Maret 2009 akan mengulas beragam sistem pertanian yang dipakai dalam lingkup pertanian skala kecil atau pertanian keluarga. Selama 50 tahun terakhir, dunia telah menyaksikan pertumbuhan pertanian yang dipicu permintaan pasar dan bisnis produk pertanian, sebagai akibat dari Revolusi Hijau. Pada saat bersamaan, pertanian skala kecil dan pertanian keluarga juga terus mengembangkan sistem-sistem pertanian yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan tantangan alam.
Di wilayah dengan kondisi alam keras seperti topografi berbukit dan kering, pertanian skala kecil masih mendominasi. Sementara di banyak sentra pertanian, pertanian skala kecil telah terlibas dan diganti dengan sistem pertanian intensif (baik dari sisi luas lahan maupun teknologi) yang dipicu oleh permintaan pasar dan bisnis produk pertanian.
Saat ini, pertanian skala kecil atau pertanian keluarga masih menjadi sumber penghidupan dan ketahanan pangan yang penting bagi sekitar 600 juta keluarga di dunia. Pertanian skala kecil memelihara keanekaragaman hayati, membuat sistem ekologi pertanian mampu bertahan menghadapi tantangan alam atau bencana akibat ulah manusia, siap menjaga tradisi budaya, dan fleksibel dalam hal tenaga kerja. Dengan sistem pertanian skala kecil, keluarga petani bisa menjaga keutuhan dan kelangsungan hidup komunitas mereka meski tanpa bantuan pihak lain.
Kebijakan pemerintah sering memarginalkan keragaman sistem pertanian. Contohnya subsidi pemerintah bagi teknologi canggih yang tidak mungkin diadopsi petani skala kecil, mengijinkan impor barang pertanian murah dari negara lain untuk membanjiri pasar dalam negeri dan mematikan produk petani dalam negeri, atau dengan menyangkal kepemilikan petani atas aset pertanian, dan mengabaikan hak konsumen.
Selain itu, petani skala kecil juga kerap dirugikan oleh peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan produk pertanian internasional skala besar. Contohnya kasus petani di Kediri yang dituntut oleh PT BISI karena membuat benih jagung, atau penggusuran sehingga petani kehilangan hak atas tanah dan air.
Bagaimana keluarga petani menjaga pengetahuan dan cara bertani mereka? Bagaimana mereka bertahan dari persaingan pasar global yang sangat fluktuatif? Bagaimana mereka tetap berusaha indipenden dari subsidi atau bantuan input? Bagaimana mereka menghadapi isu migrasi yang mengurangi tenaga kerja? Bagaimana mereka tetap mempertahankan pertanian di tengah situasi sekitar yang terus berubah?
Kami mencari artikel yang menceritakan rupa-rupa praktik pertanian yang secara eksplisit menghargai lanskap pertanian yang beragam, sistem pertanian yang berbeda-beda, dan komoditi yang beraneka. Kami juga menerima artikel yang mengulas sistem pertanian yang mampu menghadapi kebijakan dan model pembangunan yang mengecilkan arti penting dari kemandirian dan cara hidup keluarga petani.
Tulisan Anda ditunggu selambat-lambatnya 31 Januari 2009
Terima kasih..