Wakatobi menyimpan potensi alam luar biasa yang harus dijaga

Posted by Kiko | June 23, 2008 | 

Koran Tempo, 16 Juni 2008
Lebih dari 10 tahun lalu, Kepulauan Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara sudah dijuluki “surga terumbu karang”. Julukan itu diberikan bukan tanpa alasan. Wilayah yang dulu bernama Kepulauan Tukang Besi ini terletak di kawasan segitiga karang dunia. Gugusan pulau karang di Wakatobi sangat luas, hingga 90 ribu hektare. Operation Wallacea, lembaga penelitian Inggris, sejak 1996 melakukan riset intensif di kepulauan ini. Lembaga itu menemukan kekayaan alam luar biasa. Angka keanekaragaman biota laut di Wakatobi bisa dibilang tertinggi di dunia. Lembaga itu mencatat, ada 942 spesies ikan yang hidup di wilayah ini.

Di dasar lautnya, Wakatobi menyimpan 750 spesies karang dari 850 jenis yang ada di bumi. Bandingkan dengan dua wilayah lain yang juga kaya akan terumbu karang, yakni Laut Merah, yang cuma punya 300 spesies karang, atau Laut Karibia, yang memiliki 50 spesies saja. Di kepulauan yang terdiri atas empat pulau utama, Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, ini juga terdapat gugusan pulau karang atau atoll Kaledupa dengan panjang 48 kilometer. Atoll itu terpanjang di dunia. Wajar jika wilayah ini juga diganjar dengan sebutan pusat atau jantungnya segitiga karang dunia. Sejak 1996, pemerintah meresmikan “surga para penyelam” ini sebagai Taman Nasional Wakatobi. Setahun setelah penetapan itu, dibuat peta zonasi konservasi untuk mengatur wilayah mana yang bisa dimanfaatkan dan mana yang tidak. Tujuannya, agar pelestarian lingkungan, seperti terumbu karang, bisa berjalan baik. Sumber daya ikan diharapkan juga lebih terjamin untuk jangka panjang. “Namun, sampai 2003, zonasi itu belum berjalan efektif,” kata Veda Santiaji, Project Leader The Nature Conservancy- World Wildlife Fund. Dua lembaga penggiat konservasi ini mulai 2003 melakukan kegiatan pemantauan dan pelestarian lingkungan kawasan ini. Meski saat itu sudah ada peta zonasi, nelayan masih menangkap ikan di daerah-daerah yang seharusnya terlindungi. Area pemijahan ikan yang sebelumnya tersebar dan berlimpah di 30 lokasi pada 2003 menyusut hingga tinggal 12 lokasi karena penangkapan berlebihan. Tahun lalu, lokasi pemijahan ikan itu bahkan melorot lagi tinggal empat.”Satu lokasi kini dalam keadaan kolaps,” ujar Veda. Penggunaan bom ikan, potas atau bius, dan pukat harimau yang merusak lingkungan kerap terjadi. Menangkap ikan dengan bom, seperti di daerah lain, sering dilakukan nelayan tradisional. Karena belum efektif itulah peta zonasi didesain ulang. Hasilnya, pada Juli 2007, Balai Taman Nasional Wakatobi, Pemerintah Kabupaten Wakatobi, serta Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menetapkan peta zonasi baru. Peta ini membagi Kepulauan Wakatobi menjadi lima zona: zona inti, perlindungan bahari, pariwisata, pemanfaatan lokal, dan pemanfaatan umum. Zona inti atau “no go area” adalah kawasan yang sama sekali tak boleh dimanfaatkan atau dilintasi kapal. Zona perlindungan bahari juga terlarang untuk penangkapan ikan, meski kapal nelayan boleh melintas. Adapun zona pariwisata hanya untuk keperluan wisata. Nelayan hanya boleh menangkap ikan di zona pemanfaatan lokal dan zona pemanfaatan umum. Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi Wahyu Rudianto mengatakan, dengan zonasi baru itu, tidak cuma terumbu karang yang dilindungi, tapi juga tujuh potensi alam lain kawasan ini, yakni tempat pemijahan ikan, habitat penyu, burung pantai, migrasi mamalia laut seperti paus dan lumbalumba, hutan bakau, rumput laut, dan spesies penting lain yang bernilai ekonomi. Meski revisi peta zonasi telah terbit, bukan berarti aturan ini langsung efektif. Penangkapan ikan di zona terlarang masih terjadi. Penggunaan bom ikan, meski jumlahnya sudah jauh berkurang, kadang masih dilakukan sembunyi- sembunyi di lokasi yang jauh dari pantauan. “Penggunaan potas juga masih marak,” kata Veda. Karena itu, Balai Taman Nasional dan pemerintah kabupaten, yang dibantu TNC-WWF, kini gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat. Hasilnya, sudah ada pergeseran pola pemanfaatan. Nelayan lokal dan dari luar Wakatobi yang sebelumnya memanfaatkan area konservasi mulai bergeser ke lokasi yang diizinkan. Nelayan juga mulai mengubah pola penangkapan dengan alat ramah lingkungan, seperti pancing atau jaring lingkar. “Meskipun belum semua memahami,” ujar Wahyu. Pada 2003, saat TNC dan WWF memulai tugas di Wakatobi, kata Veda, paling tidak terdengar sampai 14 kali suara bom ikan yang dipakai nelayan di Pulau Wangiwangi. Kini, ledakan itu tak lagi terdengar. “Namun, selain perlu pemahaman bersama, pengawasan harus tetap dilakukan,” katanya. Semua itu demi jantung karang dunia ini. DIMAS ADITYO

Penyebab Kerusakan Terumbu Karang

Menurut Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi Wahyu Rudianto, pola pemanfaatan di masa lalu menyisakan kerusakan terumbu karang di wilayah ini. Tingkat kerusakan tertinggi adalah di sekitar Pulau Wangi-wangi dan Kaledupa, yang mencapai 19 persen. Proses perbaikan secara alami perlu waktu bertahun-tahun. Berikut ini empat macam penyebab kerusakan terumbu karang :

BOM IKAN Ledakannya mengakibatkan banyak hewan laut mati dan terumbu karang hancur.

BIUS (POTAS) Meski tidak menghancurkan, potas mengakibatkan karang kehilangan keindahannya. Karang memutih dan pucat. Potas juga tidak larut dalam air, sehingga, meski dipakai di satu lokasi, dengan mudah menyebar. Akibatnya, dampak kerusakan makin meluas, seperti matinya hewan karang.

PUKAT HARIMAU (TRAWL) Terumbu karang hancur karena ikut terangkat saat menjaring ikan.

JANGKAR KAPAL Kapal yang membuang sauh juga mengakibatkan kerusakan. Saat jangkar ditarik, karang bisa ikut tercerabut.

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Terms of Reference: SoFEI Gender and Development Specialist (Makassar based)
Training Fasilitator Community Development Agustus 2008

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

You must be logged in to post a comment. Click here to login.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!